Aku Harap Kapolri Baca Ini


Aku Harap Kapolri Baca Ini


Saya adalah anak yang di lahirkan di kota Kudus dan dibesarkan oleh keluarga yang bercukupan. Saya anak pertama dari 2 bersaudara. Sejak kecil saya mempunyai cita – cita untuk menjadi seorang polisi. Menurutku polisi adalah sesosok orang yang mulia, yang mengabdikan hidupnya untuk Negara.

15 tahun aku hidup di dunia ini. Aku selalu mendapatkan motivasi – motivasi yang menguatkan cita – citaku untuk menjadi seorang polisi. Baru kelas 2 SMP aku mengenal tingkatan – tingkatan dalam polisi. Dan menjadi seorang perwira adalah impianku. Untuk menjadi seorang perwira tentu bukan hal yang mudah. Di Indonesia harus masuk dulu ke akademi kepolisian yang tentu akan memiliki saingan yang banyak dan sangat berat untuk diterima di sekolah itu. Aku selalu berdo’a, ya Allah kabulkanlah keinginan hamba untuk menjadi seorang perwira.

3 tahun di SMP 1 Jekulo sudah aku lalui. Kini aku duduk di bangku kelas XI SMA tepatnya jurusan IPA, alhamdulillah. Disini aku mendapatkan banyak pengetahuan tentang dunia kepolisian melalui guru – guru dan teman – temanku. Di saat itulah aku mulai yakin dan mantab untuk menjadi seorang polisi. Dan kebetulan pada akhir tahun pelajaran, ada sosialisasi dari polres tentang Akpol. Sosialisasi itu menjelaskan seleksi apa saja yang akan di berikan pada waktu masuk disana. Dan pada saat sosialisasi itu sudah selesai, saya mencoba menghampiri seorang taruna lulusan akpol. Saya lupa kapan tahun dia lulus. Kita berbincang – bincang sejenak dan akhirnya aku menemukan pelajaran baru tentang seleksi masuk akpol. Yaitu tips – tips dari dia untuk diterima disana.

Tahun pelajaran baru dimulai, dan aku mendengar namaku di panggil di speaker pengumuman. Aku datang ke sumber suara. Setelah semua anak sudah terkumpul, pak guru mulai menjelaskan maksud kita dikumpulkan disini apa. Ternyata kita mau diseleksi tingkat sekolahan untuk mengikuti seleksi paskibra provinsi. Dalam hatiku, ah kebetulan nih. Katanya ketika masuk akpol juga menerima sertifikat semacam paskibraka. Aku sangat sumpringah waktu itu, berharap semoga aku lolos dari tingkat sekolah dan mengikuti seleksi lagi di tingkat kabupaten kemudian ke tingkat provinsi. Dan Alhamdulillah aku lolos di tingkat sekolah, sekolahku mengirimkan 2 perwakilan putra dan putri. Mulai saat itu aku secara rutin latihan fisik setiap hari. Siang hari di bawah terik matahari aku lari dengan ditemani jaket dan training parasit warna hitam. Aku lari menyongsong matahari dengan semangat lolos seleksi paskibraka. Dan hari itupun telah tiba, pagi sekali pukul 6 saya berangkat dari rumah dengan restu kedua orang tua. Disana aku temukan banyak teman baru, semua anak yang beruntung mewakili sekolahnya untuk mengikuti seleksi. Seleksi demi seleksi aku ikuti, dan pulang sekitar jam 1 siang. Selama kurang lebih 2 bulan aku menunggu kabar dari hasil seleksi tersebut. Tetapi belum juga ada surat dari panitia seleksi sampai di sekolahku. Aku Tanya kepada guruku, tetapi kata beliau juga belum ada surat datang. Dan akupun mulai putus asa. Aku tidak pernah menunggu kedatangan surat itu, karena pasti aku tidak lolos.

Tidak lolos seleksi provinsi, aku masih punya harapan untuk mengikuti paskibra kabupaten. Bagitu juga ini, aku sudah tunggu berbulan – bulan tetapi surat dari panitia penerimaan paskibra kabupaten belum juga datang. Kemudian belum lama ini aku mengikuti kirab mewakili sekolahku dan kirab itu diikuti seluruh SMA se kabupaten Kudus. Tidak kusangka aku bertemu temanku saat ikut seleksi paskib provinsi. Dia bilang, “kamu kemana? Kita dan teman – teman menunggu kamu dalam paskibra kebupaten.” Aku sontak terkejut, ternyata seleksi paskib kabupaten sudah dilaksanakan. Seketika hancur hatiku. “loh.. emang sudah ada ya seleksi paskib kabupaten? Kok sekolahku gak dapat surat pemberitahuan sih !” “iya udah ada kok seleksinya dulu pas waktu liburan sekolah” betapa lemasnya badanku pada saat itu, tak mampu menahan penyesalan sekaligus kekecewaan. Padahal jika sekolahku mendapatkan surat, aku bisa langsung diterima paskib kabupaten tanpa harus mengikuti seleksi. Itu karena aku sudah mengikuti seleksi provinsi. Kekecewaanku pada panitia semakin mendalam ketika ada yang bilang kalau banyak orang selundupan mengikuti paskib. Yang artinya mereka langsung diterima menjadi anggota pengibar bendera tanpa harus mengikuti seleksi. Ya Allah, apa salahku?. Berhari – hari aku merenungi nasibku ini. Dan hal itu membuat semangat hidupku langsung drop, sampai akhirnya aku gak pernah nge-blog lagi. Dan anehnya, ketika aku mendengar kata 17 agustus dan bendera merah putih, begitu juga petugas pengibar bendera, dan lagu Indonesia Raya hatiku bergetar. Seolah – olah aku pernah melakukan kesalahan kepada negaraku. Aku sangat cinta negaraku, aku ingin berguna baginya. Tetapi usahaku selalu sia sia.

Dan orang tuaku yang selama ini mendukung aku untuk menjadi polisi, sekarang tiba – tiba menasihatiku untuk mengubur dalam – dalam keinginan itu. Aku kaget mendengar perkataan mereka. Mereka bilang, untuk menjadi bintara saja perlu uang 300 juta apalagi masuk taruna. Banyak saudaraku yang bilang, anak pak bupati masuk akpol perlu dana 1 milyar. Uang darimana aku? Mau menjual sawah, tak punya sawah. Sampai akhirnya aku terus kepikiran tentang hal itu. Apa benar cita – citaku yang selalu aku impikan dan aku usahakan selama kurang lebih 15 tahun ini berhenti sampai disini saja?. Pikiran itu selalu menghantuiku. Terus kalau gagal menjadi polisi aku mau jadi apa? Pengangguran? Ya Allah, aku tambah sedih kalau ingat itu. Aku ingin menjadi anak yang berguna, minimal untuk kedua orang tuaku. Seakan aku malu pada kaos – kaos polisi yang aku koleksi sejak dulu, kepada teman – teman juga, dan juga saudara – saudaraku. Aku selalu membangga – banggakan sosok polisi kepada mereka. Polisi itu jantan, gagah berani dan aku akan menjadi polisi. Kalau ingat kata – kataku itu aku malu, kalau pada akhirnya aku gagal menjadi polisi.

Sumpah dari dalam hati nuraniku, aku sangat ingin menjadi polisi yang bisa mengayomi masyarakat. Aku berharap pak kapolri membaca postinganku ini. Dan memberikan solusi untukku. Dan pada kesempatakan kali ini juga aku mohon pamit kepada kalian rekan – rekan blogger. Aku mau ijin berhenti nge-blog. Mungkin aku pernah mengucapkan kata – kata yang kurang patut kapada kalian. Tetapi maafkanlah aku. Kalian adalah sahabatku walaupun belum pernah bertemu. Melalui media blog, aku bangga bisa menemukan sahabat – sahabat yang baik. Saling berbagi canda dan tawa. Mungkin nanti aku akan kembali ke dunia blog setelah aku menemukan jati diriku, menemukan pekerjaan yang cocok untukku. Selamat tinggal blogger, selamat tinggal blogazine, selamat tinggal cita – citaku ……





Previous
Next Post »

Komentar Facebook